GoMarginify
Coba gratis

Glosarium laba e-commerce

A

ACOS
ACOS (Advertising Cost of Sale) adalah persentase yang menunjukkan seberapa besar biaya iklan dibandingkan dengan penjualan yang dihasilkan dari iklan tersebut. Rumusnya: (Total Biaya Iklan ÷ Total Penjualan dari Iklan) × 100%. Semakin rendah ACOS, semakin efisien iklan Anda. Misalnya, ACOS 20% berarti untuk setiap $100 penjualan, Anda menghabiskan $20 untuk iklan.
e.g. Kamu menjalankan iklan di Amazon dengan biaya $150 dan menghasilkan penjualan $750. ACOS-nya: ($150 ÷ $750) × 100% = 20%. Artinya, 20% dari penjualan digunakan untuk biaya iklan. Kalau ACOS melewati 30%, biasanya perlu optimasi kata kunci atau bid.
ad spend
Total dana yang dikeluarkan untuk iklan di marketplace atau platform eksternal seperti Google Ads dan Facebook Ads. Di Amazon, ad spend biasanya terdiri dari Sponsored Products, Sponsored Brands, dan Display Ads. Hitung ROI-nya dengan seksama — kalau ACOS (Advertising Cost of Sale) di atas 30%, artinya iklanmu terlalu boros. Gunakan tools seperti Helium 10 atau Sellics untuk optimasi kata kunci dan bidding.
e.g. Kita alokasikan Rp5.000.000 sebulan untuk iklan Amazon. ACOS rata-rata 28%, tapi untuk SKU F12B ACOS-nya 45%. Setelah kita kurangi bidding untuk kata kunci tidak relevan, ACOS turun jadi 22% dan penjualan tetap naik 15%. Jangan lupa matikan iklan yang ACOS-nya di atas 50% — itu uang yang hilang begitu saja.

B

Biaya FBA (Fulfillment by Amazon)
Biaya yang dikenakan Amazon untuk menyimpan stok di gudang mereka, memproses pesanan, dan menangani pengembalian. Biaya ini bervariasi tergantung berat, dimensi, dan kategori produk. Pada bulan Maret, kami pindah ke fulfillment sendiri karena biaya FBA untuk SKU berat kami tembus Rp 18.000 per unit—terlalu mahal untuk margin kami. Periksa kalkulator FBA Amazon sebelum mengirim stok, karena biaya bisa naik tiba-tiba jika dimensi produk salah diinput.
e.g. Produk berat 1,5 kg, dimensi 30x20x15 cm, terjual 500 unit. Biaya FBA per unit Rp 12.500 (penyimpanan + pengiriman). Total biaya FBA = 500 x Rp 12.500 = Rp 6.250.000.
Biaya Referensi (Referral Fee)
Persentase atau biaya tetap yang dikenakan platform marketplace (seperti Amazon, Tokopedia, Shopee) atas setiap transaksi yang berhasil. Di Amazon, biaya referensi biasanya 15% untuk sebagian besar kategori, tapi bisa lebih rendah untuk buku atau perangkat elektronik. SKU kami di kategori Elektronik dikenakan biaya referensi 8%, sementara kategori Mainan 15%. Tahun lalu, biaya ini makan Rp 45 juta dari total pendapatan kami—jadi selalu hitung sebelum menetapkan harga jual.
e.g. Penjualan Rp 1.000.000, biaya referensi 15%. Biaya referensi = Rp 1.000.000 x 0,15 = Rp 150.000. Jika kategori Anda 8%, biayanya hanya Rp 80.000.
Break-even
Titik di mana total pendapatan sama dengan total biaya, jadi kamu nggak untung nggak rugi. Hitungannya sederhana: total biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit. Kalau biaya tetap bulananmu $3,500 dan margin kontribusi per produk $4.20, kamu perlu jual 834 unit untuk impas. Tapi kalau ada biaya tak terduga $800 bulan ini, break-even naik jadi 1,024 unit.
e.g. SKU A001 kamu punya biaya variabel $3.80 (produk + ongkos kirim), harga jual $9.99, dan biaya tetap $2,200/bulan (sewa gudang, gaji, dll). Margin kontribusi = $9.99 - $3.80 = $6.19. Break-even = $2,200 / $6.19 ≈ 356 unit. Kalau bulan lalu kamu cuma jual 300 unit, rugi $311.50 — perbaiki strategi promosi atau kurangi biaya tetap.

C

chargeback
Chargeback adalah proses pengembalian dana yang dipicu oleh pelanggan melalui bank atau kartu kredit karena ketidakpuasan terhadap transaksi, seperti barang tidak diterima, tidak sesuai deskripsi, atau penipuan. Chargeback berbeda dengan refund karena melibatkan pihak ketiga (bank) dan biasanya dikenakan biaya administrasi. Chargeback yang terlalu sering bisa membuat akun toko diblokir.
e.g. Seorang pelanggan mengklaim barang tidak pernah sampai padahal sudah dikonfirmasi diterima. Bank kemudian meminta chargeback sebesar $50. Kamu harus membayar biaya chargeback $15 dan barang yang dikembalikan. Kalau chargeback mencapai 1% dari total transaksi, platform seperti Amazon bisa membekukan akunmu.
Contribution Margin
Selisih antara harga jual dengan biaya variabel per unit, yang digunakan untuk menutupi biaya tetap dan menghasilkan laba. Margin kontribusi nggak sama dengan margin kotor karena nggak memasukkan biaya tetap. Misal, harga jual $14.99, biaya variabel $6.75 (produk + ongkos kirim + fee marketplace), margin kontribusi = $8.24. Dari situ, $3,200 biaya tetap bisa ditutup kalau kamu jual 389 unit.
e.g. Kamu jual di Shopee dan TikTok Shop. Di Shopee, fee 12% + $3.50 per pesanan, ongkos kirim $2.80. Di TikTok, fee 5% + $1.90 per pesanan, ongkos kirim $2.50. Hitung margin kontribusi masing-masing channel. Shopee: $9.99 - ($6.20 + $3.50 + $2.80) = -$2.51 (rugi per pesanan!). TikTok: $9.99 - ($6.20 + $1.90 + $2.50) = -$0.61. Lebih baik tutup Shopee dulu sampai fee naik atau ongkos kirim turun.
Cash Flow
Aliran masuk dan keluar uang tunai dalam bisnis Anda selama periode tertentu. Cash flow positif berarti uang masuk lebih banyak daripada keluar, sedangkan negatif berarti sebaliknya. Di e-commerce, cash flow seringkali tidak sinkron dengan omzet karena adanya penundaan pembayaran platform, biaya pengiriman, dan siklus persediaan.
e.g. Bulan Maret, omzet kita Rp50.000.000 dari 200 penjualan. Tapi uang dari Shopee baru masuk 15 hari kemudian, jadi bulan Maret kita hanya menerima Rp30.000.000. Sementara itu, kita sudah bayar Rp20.000.000 untuk stok bulan depan, Rp5.000.000 untuk gaji, dan Rp3.000.000 untuk iklan. Cash flow bulan Maret minus Rp8.000.000. Akibatnya, kita terpaksa pinjam ke bank Rp10.000.000 untuk modal bulan April. Dari situ, kita belajar untuk selalu simpan 20% omzet sebagai dana darurat cash flow dan negosiasi pembayaran platform jadi 7 hari, bukan 14 hari.

F

fulfillment fee
Biaya yang dikenakan marketplace atau 3PL untuk menangani pengemasan, pengiriman, dan layanan pelanggan atas pesanan yang terjual. Di Amazon FBA, biaya ini bervariasi tergantung ukuran dan berat barang. Kalau barangmu beratnya 2kg dan ukuran standar, perkirakan sekitar Rp12.000–Rp18.000 per unit. Hitung ini sebelum ekspor ke AS, karena bisa makan margin kalau salah perhitungan.
e.g. Kita pindah fulfillment ke FBA bulan Maret karena ekspedisi lokal terlalu lambat. Ternyata fulfillment fee untuk barang elektronik kecil naik dari Rp8.500 (ekspedisi lokal) jadi Rp16.200 (FBA). Akibatnya, margin SKU C09Y turun dari 35% jadi 22%. Cek dulu kalkulator biaya FBA sebelum memutuskan.

H

Harga Pokok Penjualan (HPP)
Total biaya langsung yang dikeluarkan untuk memproduksi atau membeli barang yang dijual. Termasuk biaya bahan baku, ongkos produksi, dan biaya pengiriman ke gudang. Jangan samakan HPP dengan harga beli supplier—HPP juga mencakup biaya impor, bea cukai, dan pajak jika barang Anda berasal dari luar negeri. SKU B07X kami merugi 12% bulan lalu karena HPP naik 8% akibat kenaikan harga bahan baku dari Cina.
e.g. Membeli 100 unit @ Rp 120.000, ongkos kirim Rp 500.000, bea cukai Rp 300.000. HPP per unit = (12.000.000 + 500.000 + 300.000) / 100 = Rp 138.000.

I

Inventory Turnover (Perputaran Persediaan)
Berapa kali stok barang Anda terjual dan diganti dalam periode tertentu, biasanya per tahun. Rasio ini menunjukkan seberapa efisien Anda mengelola persediaan. Inventory turnover tinggi berarti barang laku cepat dan modal tidak terikat lama. Turnover rendah bisa berarti overstock, barang kadaluarsa, atau penjualan lemah.
e.g. Tahun lalu, toko elektronik kita menjual 1.200 unit headphone merek X. Rata-rata stok yang kita simpan adalah 200 unit. Artinya, inventory turnover kita adalah 1.200 / 200 = 6x per tahun. Itu lumayan bagus untuk kategori headphone. Tapi untuk kabel charger, turnover-nya cuma 2x karena banyak yang menumpuk di gudang. Akibatnya, kita harus diskon 30% bulan lalu untuk membersihkan stok. Belajar dari situ, sekarang kita cek turnover setiap bulan dan hanya beli stok yang akan laku dalam 3 bulan ke depan.

L

Laba Bersih
Jumlah uang yang benar-benar masuk ke kantong Anda setelah semua biaya operasional, pajak, dan pengeluaran lainnya dikurangi dari total pendapatan penjualan. Ini angka yang Anda lihat di laporan bank, bukan hanya angka di dashboard Amazon. Tahun lalu, toko kami mencatat laba bersih Rp 125 juta setelah bayar gaji karyawan, listrik, dan pajak penghasilan. Jangan sampai salah hitung, karena laba bersih inilah yang menentukan apakah bisnis Anda layak dilanjutkan atau tidak.
e.g. Penjualan bulanan Rp 50 juta, COGS Rp 20 juta, biaya FBA Rp 8 juta, gaji Rp 10 juta, listrik Rp 1,5 juta, pajak Rp 2 juta. Laba bersih = Rp 50j - (Rp 20j + Rp 8j + Rp 10j + Rp 1,5j + Rp 2j) = Rp 8,5 juta.
Landed Cost
Biaya total yang dikeluarkan untuk membawa produk dari pemasok hingga sampai ke gudang atau pelanggan, termasuk harga pembelian, ongkos kirim internasional, bea cukai, pajak impor, dan biaya penanganan di dalam negeri. Banyak seller yang lupa menghitung bea masuk 10% di Indonesia, jadi jangan sampai SKU B07X yang kamu beli $8.50 ternyata jadi $11.20 setelah sampai di gudang.
e.g. Kamu beli 100 unit dari China seharga $5.00/unit, ongkos kirim $1.20/unit, bea masuk 7.5%, pajak PPN 11%, dan biaya pergudangan $0.30/unit. Landed cost per unit = ($5.00 + $1.20) × 1.075 × 1.11 + $0.30 = $7.65. Kalau kamu jual $12.99, margin kotor cuma $5.34 — tipis banget kalau pasarnya kompetitif.

M

Margin Kotor
Persentase keuntungan yang Anda dapatkan dari setiap penjualan sebelum dikurangi biaya operasional. Ini menunjukkan seberapa efisien Anda membeli barang dan menetapkan harga jual. Margin kotor 40% berarti dari setiap Rp 100 penjualan, Rp 40 adalah keuntungan sebelum biaya lain-lagi. Kami menaikkan margin kotor dari 32% menjadi 38% setelah pindah supplier lokal yang lebih murah bulan lalu.
e.g. Harga jual Rp 250.000, COGS Rp 150.000. Margin kotor = ((250.000 - 150.000) / 250.000) x 100 = 40%.
Multi-channel
Strategi menjual produk di lebih dari satu platform marketplace, website sendiri, atau toko fisik untuk meningkatkan jangkauan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu channel. Tapi hati-hati: setiap channel punya fee, aturan, dan audiens yang berbeda. Misal, kalau kamu jual di Tokopedia, Shopee, dan Lazada, kamu perlu hitung ongkos operasional per channel — jangan sampai margin di Lazada habis karena fee 15% sementara di Shopee cuma 12%.
e.g. Kamu punya 500 unit stok. Di Tokopedia, kamu jual 200 unit dengan margin $4.50/unit, tapi ongkos kirim lokal $3.20. Di Shopee, 250 unit dengan margin $3.80, ongkos kirim $2.90. Sisanya 50 unit dijual di website sendiri dengan margin $6.00, ongkos kirim $4.50. Total laba kotor = (200×$4.50) + (250×$3.80) + (50×$6.00) = $900 + $950 + $300 = $2,150. Tapi kalau fee marketplace naik 2%, laba turun jadi $1,900 — selalu siapkan dana darurat 10-15% dari laba.

O

Operating Expense (Biaya Operasional)
Semua biaya rutin yang dikeluarkan untuk menjalankan bisnis sehari-hari, tidak termasuk biaya pembelian barang atau investasi jangka panjang. Ini termasuk gaji, sewa gudang, listrik, biaya platform, iklan, dan perbaikan peralatan. Di e-commerce, biaya operasional seringkali menjadi jebakan karena terlihat kecil tapi menumpuk.
e.g. Kita ambil contoh toko pakaian online. Bulan lalu, kita bayar Rp5.000.000 untuk gaji dua karyawan, Rp2.000.000 untuk sewa gudang di Cikarang, Rp800.000 untuk listrik dan internet, Rp1.500.000 untuk iklan Shopee, dan Rp300.000 untuk perbaikan printer. Total biaya operasional Rp9.600.000. Padahal omzet hanya Rp25.000.000. Artinya, 38% dari pendapatan habis untuk biaya operasional sebelum barang terjual pun. Kalau margin barang kita cuma 25%, berarti kita sudah merugi sejak awal.

P

Payout
Jumlah uang yang diterima dari marketplace atau payment gateway setelah dipotong semua fee, pengembalian barang, dan penalti. Biasanya ada jeda waktu 3-14 hari kerja sebelum dana masuk ke rekening. Kalau marketplace memotong $2.10 fee per pesanan dan ada 1 refund $15.00 bulan ini, payout bulananmu bisa turun drastis. Jangan sampai salah hitung: payout = (jumlah pesanan × harga jual) - (fee + refund + penalti) - pajak.
e.g. Bulan lalu kamu jual 420 pesanan di TikTok Shop dengan harga rata-rata $12.50. Fee TikTok 5% + $1.90 per pesanan, ada 8 refund senilai $100 total, dan penalti $35 karena keterlambatan pengiriman. Payout = (420 × $12.50) - (420 × ($0.63 + $1.90)) - $100 - $35 = $5,250 - $1,054.60 - $135 = $4,060.40. Kalau kamu kira bakal dapat $5,250, salah besar — selalu cek laporan payout setiap bulan.
Profit Margin
Persentase laba bersih setelah semua biaya (termasuk biaya barang, pengiriman, dan biaya platform) dikurangi dari pendapatan total. Ini menunjukkan seberapa efisien bisnis Anda menghasilkan uang dari setiap penjualan. Margin kotor (sebelum biaya operasional) dan margin bersih (setelah semua biaya) keduanya penting, tapi margin bersih yang menentukan keberlanjutan bisnis.
e.g. Bayangkan SKU B001X terjual Rp150.000 di Tokopedia. Setelah dikurangi biaya barang Rp80.000, biaya pengiriman Rp15.000, dan fee platform Rp12.000, margin kotornya Rp43.000 (28,7%). Tapi setelah tambahkan biaya listrik gudang Rp3.000 dan gaji asisten Rp8.000, margin bersihnya tinggal Rp32.000 (21,3%). Itu baru untung, tapi kalau fee naik 1% bulan depan, marginnya bisa turun ke 20% dan jadi tidak layak.

R

ROAS
ROAS (Return on Advertising Spend) adalah rasio yang menunjukkan berapa banyak pendapatan yang dihasilkan dari setiap dolar yang dihabiskan untuk iklan. Rumusnya: Total Pendapatan dari Iklan ÷ Total Biaya Iklan. ROAS 5x berarti untuk setiap $1 yang dihabiskan, kamu mendapatkan $5 pendapatan. ROAS sering digunakan untuk mengukur efektivitas kampanye iklan.
e.g. Kamu menghabiskan $200 untuk iklan dan mendapatkan $1.200 penjualan. ROAS-nya: $1.200 ÷ $200 = 6x. Artinya, setiap $1 iklan menghasilkan $6 pendapatan. ROAS di bawah 3x biasanya perlu ditinjau ulang, kecuali untuk produk dengan margin sangat tinggi.
refund rate
Refund rate adalah persentase pesanan yang dikembalikan oleh pelanggan dibandingkan dengan total pesanan yang diterima. Rumusnya: (Jumlah Pesanan yang Dikembalikan ÷ Total Pesanan) × 100%. Refund rate tinggi bisa berdampak pada reputasi toko dan biaya pengembalian. Biasanya, refund rate di atas 5% perlu ditindaklanjuti.
e.g. Bulan lalu, kamu menerima 1.000 pesanan dan 60 di antaranya dikembalikan. Refund rate-nya: (60 ÷ 1.000) × 100% = 6%. Artinya, 6% pelanggan tidak puas dengan produk atau pengiriman. Refund rate tinggi bisa disebabkan oleh deskripsi produk yang tidak akurat atau kualitas barang yang buruk.
return processing
Biaya dan proses yang timbul saat pembeli mengembalikan barang, termasuk pengecekan kondisi, restocking, atau pembuangan. Di Amazon, biaya return processing sekitar Rp15.000–Rp25.000 per unit tergantung kategori. Kalau barang rusak atau tidak bisa dijual lagi, biaya ini bisa naik karena denda kondisi. Catat setiap return, karena bisa jadi indikasi masalah kualitas atau deskripsi produk yang salah.
e.g. Bulan lalu 8% dari penjualan SKU E11A direturn. Kita bayar Rp22.000 per return untuk pengecekan dan restocking. Total biaya return processing Rp440.000. Ternyata, 60% return karena deskripsi gambar tidak jelas. Setelah perbaiki foto dan deskripsi, return rate turun jadi 3% bulan berikutnya.

S

SKU
SKU (Stock Keeping Unit) adalah kode unik yang digunakan untuk mengidentifikasi setiap variasi produk di gudang atau sistem inventaris. SKU biasanya terdiri dari huruf dan angka yang menggambarkan atribut produk seperti ukuran, warna, atau model. Misalnya, SKU "T-SHIRT-BLK-M" bisa berarti kaos hitam ukuran M.
e.g. Kamu menjual kaos dengan 3 warna dan 4 ukuran. Tanpa SKU, gudang akan kacau. Dengan SKU seperti "KAOS-WHT-L", "KAOS-BLK-M", dll., stok dan penjualan bisa dilacak dengan mudah. SKU juga membantu saat ada pengembalian atau klaim garansi.
settlement
Proses pencairan dana hasil penjualan dari marketplace ke rekening penjual setelah dipotong biaya layanan, pajak, dan potensi denda. Biasanya terjadi setiap 14 hari sekali untuk Amazon, tapi bisa berbeda-beda tergantung kebijakan masing-masing platform. Jangan heran kalau dana masuk tanggal 15 bulan ini, tapi tanggal 1 bulan depan — itu normal.
e.g. Bulan lalu SKU B08XZ56 terjual 200 unit dengan harga Rp150.000 per unit. Setelah dipotong 15% referral fee, Rp2.500 storage fee, dan pajak 10%, settlement terakhir masuk Rp2.250.000 ke rekening. Tapi karena batas minimal pencairan Rp500.000, dana baru cair tanggal 20 bulan berikutnya.
storage fee
Biaya bulanan yang dikenakan marketplace untuk menyimpan stok barang di gudang mereka. Di Amazon, biaya ini bervariasi tergantung ukuran barang dan musim (lebih mahal Desember–Januari). Barang kecil (<15cm) dikenakan Rp1.200 per unit per bulan, tapi kalau barangmu ukuran besar (>18cm), bisa sampai Rp4.500 per unit. Jangan biarkan stok menumpuk di gudang kalau tidak laku — biaya ini bisa makan margin dalam hitungan bulan.
e.g. SKU D10Z ukuran besar dan terjual lambat. Bulan lalu kita simpan 500 unit di gudang Amazon. Storage fee bulanannya Rp4.500 per unit, jadi total Rp2.250.000. Padahal penjualan hanya 50 unit bulan itu. Akhirnya kita pindahkan stok ke gudang lokal dan hemat Rp1.800.000 sebulan.

U

Unit Economics
Analisis keuntungan atau kerugian per unit produk yang dijual, termasuk semua biaya langsung dan tidak langsung yang terkait. Ini membantu menentukan apakah suatu produk layak dijual atau tidak. Unit economics yang sehat adalah kunci untuk skala bisnis tanpa kebocoran uang.
e.g. Kita jual botol minum stainless steel seharga Rp125.000 di Lazada. Biaya barang Rp60.000, biaya pengiriman Rp15.000, fee platform 12% (Rp15.000), dan biaya iklan Rp8.000 per unit. Total biaya per unit Rp98.000. Margin per unit hanya Rp27.000 (21,6%). Tapi kalau kita beli stok 500 unit, ternyata 10% rusak dalam pengiriman, jadi biaya per unit yang benar menjadi Rp103.000. Margin turun ke Rp22.000. Belum lagi kalau ada retur 5%, biaya tambahan Rp6.250 per unit. Akhirnya, unit economics-nya jadi negatif. Dari situ, kita putuskan untuk ganti supplier dan kurangi iklan.