Cara Catat Biaya Iklan agar Profit Amazon, Shopify, dan TikTok Shop Akurat (Bukan Cuma Tebak-tebakan)
Baca 10 menit
Bayangkan SKU B07X di Amazon kamu naik penjualan bulan lalu. Kamu senang karena omzet naik 25%. Tapi setelah cek laporan profit, margin malah turun 8%. Kok bisa? Biasanya karena biaya iklan tidak tercatat dengan benar.
Kebanyakan seller hanya catat biaya iklan secara kasar di Excel atau bahkan tidak sama sekali. Akibatnya, profit yang dilihat di dashboard palsu. Saya dulu juga begitu — sampai akhirnya SKU B07X merugi 12% padahal kelihatan untung. Setelah pakai sistem catat yang benar, ternyata 60% biaya iklan tidak masuk hitungan.
Di artikel ini, saya akan tunjukkan cara catat biaya iklan per SKU dengan akurat, otomatis, dan bisa langsung dipakai untuk ambil keputusan. Bukan cuma untuk Amazon, tapi juga Shopify, TikTok Shop, eBay, dan marketplace lainnya. Siapkan catatan kecil, karena ini akan mengubah cara kamu melihat profit.
Kenapa Catatan Biaya Iklan Biasa Bikin Profit Salah
Saya pernah punya SKU di Amazon yang kelihatan untung Rp150.000 per unit. Setelah cek lebih detail, ternyata biaya iklan Amazon Ads yang saya bayar Rp80.000 per unit tidak masuk hitungan. Akhirnya, profit sebenarnya minus Rp30.000.
Masalahnya bukan cuma di Amazon. Di TikTok Shop, biaya iklan sering dicatat sebagai ‘biaya operasional’ tanpa dipisah per SKU. Akibatnya, ketika kamu lihat laporan profit, angkanya terlihat lebih besar dari kenyataan.
Contoh nyata: SKU A di Shopify naik penjualan 40% setelah campaign FB Ads. Tapi setelah cek profit, margin malah turun 5%. Setelah ditelusuri, ternyata biaya iklan FB Ads per SKU tidak tercatat dengan benar. Akhirnya, keputusan untuk scaling campaign jadi salah arah.
Jadi, catatan biaya iklan yang tidak akurat itu seperti menembak sasaran dalam gelap. Kamu bisa saja untung, tapi bisa juga malah merugi tanpa sadar.
Tip praktis: Jangan pernah mengandalkan laporan bawaan marketplace untuk profit. Mereka hanya kasih data omzet dan biaya platform, tapi biaya iklan biasanya tidak masuk. Kamu harus catat sendiri per SKU, termasuk biaya iklan dari luar marketplace seperti FB Ads, Google Ads, atau TikTok Ads.
Alat yang Dipakai untuk Catat Biaya Iklan (Bukan Excel Biasa)
Saya dulu pakai Excel untuk catat biaya iklan. Tapi setelah SKU naik jadi 50+, rasanya seperti mengurus neraka. Ada yang lupa update, ada yang salah input, dan yang paling parah, kadang biaya iklan dari FB Ads tidak masuk karena formatnya beda.
Akhirnya, saya coba pakai tools otomatis seperti Gomarginify. Tools ini bisa connect langsung ke 10 marketplace, termasuk Amazon, Shopify, TikTok Shop, dan lainnya. Setiap hari, biaya iklan dari semua platform masuk ke sistem dan langsung dipisah per SKU.
Contoh: Saya punya campaign FB Ads untuk SKU X di Shopify. Setiap hari, biaya iklan per klik (CPC) masuk ke sistem. Setelah 7 hari, saya bisa lihat berapa biaya iklan yang dikeluarkan untuk SKU X dan berapa profit yang dihasilkan.
Tapi kalau kamu belum mau pakai tools otomatis, setidaknya pakai template Excel yang sudah terstruktur. Saya pernah buat template sederhana yang bisa diunduh gratis. Template ini punya kolom untuk: - Nama SKU - Platform iklan (FB Ads, Google Ads, TikTok Ads, dll.) - Tanggal campaign - Biaya iklan per hari - Jumlah klik/impresi - Konversi (berapa yang jadi penjualan) - Revenue dari penjualan
Dengan template ini, minimal kamu bisa catat biaya iklan per SKU tanpa ribet. Tapi ingat, kalau SKU kamu banyak, tools otomatis jauh lebih efisien.
Langkah-langkah Catat Biaya Iklan per SKU (Dari Nol)
Berikut cara catat biaya iklan per SKU dengan akurat, mulai dari yang manual sampai yang otomatis.
**1. Pisah Biaya Iklan dari Biaya Lain** Jangan campur aduk biaya iklan dengan biaya operasional lain seperti biaya pengiriman, biaya platform, atau biaya pengemasan. Biaya iklan harus dipisah per SKU.
Contoh: Kalau kamu pakai FB Ads untuk 5 SKU, jangan catat biaya iklan FB Ads sebagai satu angka besar. Pisah per SKU. Misalnya, SKU A menghabiskan Rp500.000, SKU B Rp300.000, dan seterusnya.
**2. Catat Semua Platform Iklan** Jangan cuma catat biaya iklan dari marketplace. Catat juga biaya iklan dari luar marketplace seperti: - FB Ads / Meta Ads - Google Ads (Search, Display, Shopping) - TikTok Ads - YouTube Ads - Influencer marketing (kalau biayanya per SKU) - Native ads (Taboola, Outbrain)
Setiap platform punya format laporan yang berbeda. Kamu harus convert semuanya ke format yang sama. Misalnya, kalau FB Ads pakai dollar, tapi Amazon pakai rupiah, konversikan ke rupiah dulu.
**3. Gunakan ID atau Kode Referensi** Kalau platform iklan memungkinkan, gunakan ID atau kode referensi yang menghubungkan iklan dengan SKU. Misalnya, di FB Ads, kamu bisa pakai parameter UTM seperti utm_content=sku_A. Dengan begitu, ketika kamu export laporan, biaya iklan untuk SKU A langsung terpisah.
Kalau platform tidak support UTM, catat manual di kolom catatan. Misalnya, "Campaign ini untuk SKU X di Shopify".
**4. Update Setiap Hari** Jangan tunggu akhir bulan untuk catat biaya iklan. Update setiap hari, minimal setiap minggu. Kalau terlambat, kamu bisa kehilangan data penting.
Saya pernah lupa update biaya iklan selama 2 minggu. Akibatnya, ketika cek profit, ternyata SKU Y merugi 15% padahal kelihatan untung. Setelah ditelusuri, ternyata biaya iklan selama 2 minggu tidak masuk hitungan.
**5. Hitung Profit per SKU dengan Benar** Setelah semua biaya iklan tercatat, masukkan ke rumus profit per SKU:
Profit = (Harga Jual - Biaya Produk - Biaya Platform - Biaya Pengiriman - Biaya Iklan - Biaya Lain) x Jumlah Terjual - Refund
Contoh: - Harga jual: Rp200.000 - Biaya produk: Rp80.000 - Biaya platform (Amazon): Rp25.000 - Biaya pengiriman: Rp15.000 - Biaya iklan (FB Ads): Rp30.000 - Jumlah terjual: 10 unit - Refund: Rp100.000
Profit = (200.000 - 80.000 - 25.000 - 15.000 - 30.000) x 10 - 100.000 = Rp200.000
Kalau biaya iklan tidak masuk, profit yang terlihat Rp500.000. Tapi sebenarnya cuma Rp200.000.
**6. Gunakan Tools Otomatis Kalau SKU Kamu Banyak** Kalau SKU kamu sudah di atas 20, manual jadi tidak efisien. Tools seperti Gomarginify bisa connect langsung ke semua marketplace dan platform iklan. Setiap hari, biaya iklan masuk ke sistem dan langsung dipisah per SKU.
Saya dulu pakai tools ini untuk 150 SKU di Amazon dan Shopify. Sekarang, saya bisa lihat profit per SKU dalam hitungan menit, tanpa ribet catat manual. Tools ini juga bisa kirim laporan profit harian via email atau IM seperti Slack, Telegram, atau Discord.
Tip praktis: Kalau kamu pakai tools otomatis, pastikan tools tersebut support multi-currency. Karena biaya iklan dari FB Ads bisa pakai dollar, tapi penjualan di Amazon pakai rupiah. Tools yang bagus akan convert otomatis ke base currency yang kamu pilih.
Contoh Nyata: SKU yang Terlihat Untung Tapi Sebenarnya Merugi
Saya punya teman yang jualan buku di Amazon KDP. Dia lihat SKU tertentu laku keras, omzet naik 30% dalam sebulan. Tapi setelah cek profit, margin malah turun 10%. Setelah ditelusuri, ternyata biaya iklan Amazon Ads yang dia bayar Rp120.000 per unit tidak masuk hitungan.
Akhirnya, dia sadar kalau SKU tersebut sebenarnya merugi Rp20.000 per unit. Dia langsung stop campaign iklan dan ganti strategi. Sekarang, SKU tersebut jadi salah satu yang paling profitable.
Contoh lain: Saya sendiri punya SKU di TikTok Shop. Setelah campaign iklan TikTok Ads, penjualan naik 50%. Tapi setelah cek profit, ternyata biaya iklan TikTok Ads Rp150.000 per unit tidak tercatat. Akibatnya, profit yang terlihat Rp50.000 per unit, tapi sebenarnya minus Rp100.000.
Setelah pakai tools otomatis, sekarang saya bisa lihat biaya iklan TikTok Ads langsung tercatat per SKU. Profit yang terlihat sekarang akurat, dan saya bisa ambil keputusan dengan tepat.
Intinya, jangan pernah percaya 100% pada laporan profit bawaan marketplace. Mereka hanya kasih data omzet dan biaya platform, tapi biaya iklan biasanya tidak masuk. Kamu harus catat sendiri per SKU, termasuk biaya iklan dari luar marketplace.
Langkah demi langkah
- 1
Step 1: Pisah Biaya Iklan dari Biaya Lain
Jangan campur aduk biaya iklan dengan biaya operasional lain. Biaya iklan harus dipisah per SKU. Misalnya, kalau kamu pakai FB Ads untuk 5 SKU, catat biaya iklan per SKU, bukan total keseluruhan.
Cara sederhananya: - Buat daftar semua SKU kamu. - Untuk setiap SKU, catat biaya iklan yang dikeluarkan untuk campaign yang berhubungan dengan SKU tersebut. - Jangan lupa catat juga biaya iklan dari luar marketplace seperti FB Ads, Google Ads, atau TikTok Ads.
Contoh: Kalau kamu punya campaign FB Ads untuk SKU A dan SKU B, pisah biaya iklan per SKU. Misalnya, SKU A menghabiskan Rp500.000, SKU B Rp300.000. Jangan catat total Rp800.000 tanpa dipisah.
- 2
Step 2: Gunakan ID atau Kode Referensi untuk Menghubungkan Iklan dengan SKU
Kalau platform iklan memungkinkan, gunakan ID atau kode referensi yang menghubungkan iklan dengan SKU. Misalnya, di FB Ads, kamu bisa pakai parameter UTM seperti utm_content=sku_A. Dengan begitu, ketika kamu export laporan, biaya iklan untuk SKU A langsung terpisah.
Kalau platform tidak support UTM, catat manual di kolom catatan. Misalnya, "Campaign ini untuk SKU X di Shopify".
Contoh UTM yang bisa dipakai: - utm_source=facebook - utm_medium=cpc - utm_campaign=sku_A_promosi - utm_content=sku_A
Dengan UTM ini, ketika kamu export laporan dari FB Ads, kamu bisa filter campaign yang berhubungan dengan SKU A.
Tip praktis: Kalau kamu pakai Shopify, kamu bisa pakai fitur "UTM Parameters" di setting campaign. Dengan begitu, setiap klik dari iklan akan langsung terhubung dengan SKU yang kamu promosikan.
- 3
Step 3: Export Laporan Iklan dari Semua Platform dan Convert ke Format Sama
Setiap platform iklan punya format laporan yang berbeda. Kamu harus export laporan dari semua platform dan convert ke format yang sama. Misalnya, kalau FB Ads pakai dollar, tapi Amazon pakai rupiah, konversikan ke rupiah dulu.
Cara export laporan: - FB Ads: Export laporan harian via Ads Manager > Reports > Export - Google Ads: Export laporan via Reports > Predefined Reports > Basic > Export - TikTok Ads: Export laporan via Campaign > Reports > Export - Amazon Ads: Export laporan via Advertising > Reports > Advertising reports
Setelah export, gabungkan semua laporan ke satu file. Misalnya, pakai Excel atau Google Sheets. Pastikan kolomnya sama, seperti: - Tanggal - Nama SKU - Platform iklan - Biaya iklan - Jumlah klik/impresi - Konversi - Revenue
Kalau ada kolom yang beda, convert dulu. Misalnya, kalau FB Ads pakai dollar, konversikan ke rupiah dengan kurs harian.
Tip praktis: Kalau kamu pakai tools otomatis seperti Gomarginify, semua laporan iklan akan masuk otomatis ke sistem dan langsung dipisah per SKU. Kamu tidak perlu repot export manual.
- 4
Step 4: Update Catatan Setiap Hari, Minimal Setiap Minggu
Jangan tunggu akhir bulan untuk catat biaya iklan. Update setiap hari, minimal setiap minggu. Kalau terlambat, kamu bisa kehilangan data penting.
Saya pernah lupa update biaya iklan selama 2 minggu. Akibatnya, ketika cek profit, ternyata SKU Y merugi 15% padahal kelihatan untung. Setelah ditelusuri, ternyata biaya iklan selama 2 minggu tidak masuk hitungan.
Cara update catatan: - Setiap hari, cek laporan iklan dari semua platform. - Masukkan biaya iklan ke catatan per SKU. - Kalau pakai tools otomatis, pastikan tools tersebut update setiap hari.
Tip praktis: Pakai reminder di kalender atau aplikasi seperti Google Calendar untuk ingatkan kamu update catatan. Misalnya, setiap Senin jam 9 pagi, kamu update catatan biaya iklan minggu lalu.
- 5
Step 5: Hitung Profit per SKU dengan Benar
Setelah semua biaya iklan tercatat, masukkan ke rumus profit per SKU:
Profit = (Harga Jual - Biaya Produk - Biaya Platform - Biaya Pengiriman - Biaya Iklan - Biaya Lain) x Jumlah Terjual - Refund
Contoh: - Harga jual: Rp200.000 - Biaya produk: Rp80.000 - Biaya platform (Amazon): Rp25.000 - Biaya pengiriman: Rp15.000 - Biaya iklan (FB Ads): Rp30.000 - Jumlah terjual: 10 unit - Refund: Rp100.000
Profit = (200.000 - 80.000 - 25.000 - 15.000 - 30.000) x 10 - 100.000 = Rp200.000
Kalau biaya iklan tidak masuk, profit yang terlihat Rp500.000. Tapi sebenarnya cuma Rp200.000.
Cara hitung profit per SKU: 1. Catat semua biaya per SKU. 2. Kurangi harga jual dengan semua biaya. 3. Kalikan dengan jumlah terjual. 4. Kurangi dengan refund. 5. Hasilnya adalah profit per SKU.
Tip praktis: Kalau kamu pakai tools otomatis, profit per SKU akan dihitung otomatis. Kamu tinggal lihat laporan harian dan ambil keputusan.
- 6
Step 6: Gunakan Tools Otomatis Kalau SKU Kamu Banyak
Kalau SKU kamu sudah di atas 20, manual jadi tidak efisien. Tools seperti Gomarginify bisa connect langsung ke semua marketplace dan platform iklan. Setiap hari, biaya iklan masuk ke sistem dan langsung dipisah per SKU.
Cara pakai tools otomatis: 1. Daftar dan connect marketplace serta platform iklan kamu ke tools. 2. Tools akan ambil data biaya iklan otomatis. 3. Tools akan hitung profit per SKU otomatis. 4. Kamu bisa lihat laporan profit harian via email atau IM.
Contoh: Saya pakai Gomarginify untuk 150 SKU di Amazon dan Shopify. Sekarang, saya bisa lihat profit per SKU dalam hitungan menit, tanpa ribet catat manual. Tools ini juga bisa kirim laporan profit harian via email atau IM seperti Slack, Telegram, atau Discord.
Tip praktis: Kalau kamu pakai tools otomatis, pastikan tools tersebut support multi-currency. Karena biaya iklan dari FB Ads bisa pakai dollar, tapi penjualan di Amazon pakai rupiah. Tools yang bagus akan convert otomatis ke base currency yang kamu pilih.
Pertanyaan umum
Saya cuma jualan di Amazon, apakah perlu catat biaya iklan dari luar marketplace seperti FB Ads?
Perlu. Biaya iklan dari luar marketplace seperti FB Ads atau Google Ads bisa menghabiskan 30-50% dari margin kamu. Kalau tidak dicatat, profit yang terlihat di Amazon palsu. Contoh: SKU saya di Amazon kelihatan untung Rp100.000 per unit, tapi setelah cek, ternyata biaya iklan FB Ads Rp60.000 per unit tidak masuk hitungan. Akibatnya, profit sebenarnya minus Rp20.000 per unit.
Bagaimana kalau saya pakai influencer marketing? Apakah biayanya harus dicatat per SKU?
Ya, kalau biaya influencer marketing per SKU, catat per SKU. Misalnya, kalau kamu bayar influencer Rp500.000 untuk promosi SKU A, catat biaya tersebut di kolom biaya iklan untuk SKU A. Jangan campur aduk dengan biaya operasional lain.
Saya pakai tools otomatis, tapi profit yang ditampilkan masih salah. Kenapa?
Bisa jadi karena: 1. Tools tidak connect ke semua platform iklan kamu. Pastikan semua platform iklan (FB Ads, Google Ads, TikTok Ads, dll.) sudah terhubung. 2. Tools tidak support multi-currency. Kalau biaya iklan pakai dollar tapi penjualan pakai rupiah, tools harus convert otomatis. 3. Ada biaya iklan yang tidak tercatat. Cek apakah ada campaign iklan yang tidak terhubung ke tools. Saya pernah mengalami hal ini. Setelah cek, ternyata tools tidak connect ke Google Ads. Setelah connect, profit yang ditampilkan jadi akurat.
Pantau laba nyata Anda di semua marketplace
Jangan sampai profit Amazon, Shopify, atau TikTok Shop kamu salah karena biaya iklan tidak tercatat. Ikuti cara praktis ini untuk catat semua pengeluaran iklan per SKU, termasuk FB Ads, Amazon Ads, TikTok Ads, dan lainnya. Akurat, otomatis, dan bisa langsung dipakai untuk ambil keputusan.
Mulai uji coba gratis 7 hari